Transformasi eid el-fitri di masa pandemi

1. Eid el-fitri.
 Eid berasal dari fi’il a’da yang bermakna kembali, sedangkan el-fitri secara harfiah bermakna suci. Secara umum eid el-fitri adalah hari raya setelah umat islam melaksanakan ibadah puasa Ramadhan selama satu bulan penuh. Di negara islam sendiri seperti Mesir, ketika Eid el-fitri orang-orang akan melakukan ritual ibadah sholat eid ketika pagi hari di masjid-masjid dan setelah itu kembali kerumah masing-masing.
 Fenomena perayaan Eid el-fitri di Indonesian memang cukup menarik dan berbeda dengan fenomena perayaan yang terjadi di negara Arab pada umumnya. Jika kita membicarakan Eid el-fitri di Indonesia pasti kita akan membayangkan yang namannya mudik, silaturrahim, kumpul keluarga, sungkem dengan sanak saudara dan tidak ketinggalan menu khas lebaran, iaitu opor, rendang dan lain sebagainya.

2. Eid el-fitri dan silaturrahmi.
 Di katakana dalam sebuah hadits Nabi SAW yang di riwayatkan oleh Anas bin malik:
 { من أحب أن يبسط له في رزقه و ينسأ له في أثره فليصل رحمه} متفق عليه.
 Artinya:  “Barang siapa ingin di lapangkan rizkinya dan di panjangkan umurnya maka sambunglah silaturrahim” – Muttafqun alaih.
 Dari hadits di atas kita mulai bisa melakukan pengambaran betapa pentingnya menjaga silaturrahmi dan persaudaraan bahkan ketika kita sedang kerja di tempat jauh maka sempatkanlah untuk mudik agar bisa menyambung tali silaturrahmi. Selain silaturrahmi menambah umur serta melapangkan rizki juga bisa menambah kepekaan sosial dan networking.

3. Mudik online.
 Sejak Desember tahun lalu kita di gegerkan dengan pandemi Covid-19 di Wuhan, Cina. Di Indonesia sendiri pandemi ini baru masuk pada Maret 2020,  hingga sekarang dari data terakhir yang saya baca bahwa korban Covid-19 sudah mencapai 25 ribu lebih.
 Menanggapi hal ini pemerintah memberlakukan beberapa kebijakan seperti psycal distancing, lockdown, PSBB dan larangan mudik demi tidak menyebarnya wabah.
 Dalam sebuah hadits Riwayat imam Bukhori di katakan:
{ إذا سمعتم بالطاعون بأرض فلا تدخلوها، وإذا وقع بأرض و أنتم بها فلا تخرجوا منها } رواه البخاري
 Artinya: “Ketika kamu mendengar suatu wabah (tho’un) di suatu daerah maka janganlah kamu memasuki daerah tersebut, dan jika kalian berada di suatu daerah yang terjangkit sebuah wabah maka janganlah keluar dari daerah tersebut”.
 “Lantas bagaimana kita silaturrahmi pada masa pandemi seperti ini?” mungkin inilah yang akan menjadi pertanyaan yang harus di jawab. Menurut presepsi saya, silaturrahmi tidaklah harus bertemu secara muwajjah dalam satu tempat, karena sekarang bisa melalui media-media online seperti WhatsApp, ZoomApp yang mana faidahnya kurang lebih sama yaitu menguatkan rasa persaudaraan dan ukhwah.
 Pada masa pandemi seperti ini kita harus melakukan transformasi, dari model mudik konvensional menjadi mudik online, silaturrahmi online. Dalam islam kita mengenal yang namanya tadaruj fi syari’ atau transformasi hukum seperti hukum miras dan juga transformasi fikih dalam madzhab syafi’iyah yang kita kenal dengan qoul qodim dan qoul jadid, tidak lain semua itu memberikan pesan kepada kita bahwa dunia ini selalu bergerak dan manusia selalu di hadapkan pada berbagai fenomena yang membuatnya harus melakukan transformasi, seperti fenomena pandemi korona yang memaksa kita melakukan transformasi mudik dan silaturrahmi. Dalam kitab Ta’limul muta’allim karya Syaikh Al-Zarnuji beliau berpesan kepada kita: “Utamanya ilmu adalah ilmu haliyah (keadaan) dan utamanya perilaku adalah menjaga haliyah (perilaku)”.

4. Hifdzu An-Nafsi.
 Hifdzu An-Nafsi termasuk maqosid as-sari’yah al-khomsah, yang bearti menjaga jiwa dan raga. Dalam Al-Qur’an Allah berfirman dalam suroh An-Nisa’:
{ ولا تقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيم } سورة النساء: 29
 Artinya: “Dan janganlah bunuh dirimu (orang lain), sungguh, Allah maha penyayang terhadap kalian semua”. Qs. An-Nisa: 29.
 Dalam ayat tersebut Allah menegaskan perintahnya dalam bentuk kalimat nahiyah (larangan) agar kita tidak membunuh, merusak diri sendiri atau orang lain. Dalam masa pandemi, hifdzu an-nafsi harus menjadi basic bagi umat islam agar meningkatkan self awareness dengan mengikuti aturan dan protokol standar keamanan serta kesehatan. Hifdzu An-Nafsi di tengah pandemi bisa di artikan sebagai psycal distancing, lockdown, PSBB, mudik online, sliturrahmi online dan solat eid el-fitri di rumah, semua itu adalah sebuah transformasi hukum yang di sebabkan oleh fenomena baru, fenomena korona yang akhirnya menjadikan hukum juga berubah.
Islam itu fleksibel, itu di buktikan dalam hadits yang menceritakan sahabat Mu’adz Bin Jabal ketika di utus Rasuluallah pergi ke Yaman:
 عن الحارث بن عمرو ابن أخي المغيرة بن شعبة عن أناس من أهل حمص من أصحاب معاذ بن جبل: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما أراد أن يبعث معاذا إلى اليمن قال: كيف تقضي إذا عرض لك قضاء؟ قال: أقضى بكتاب الله، قال فإن لم تجد في كتاب الله؟ قال فبسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم، قال فإن لم تجد في سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ولا في كتاب الله؟ قال أجتهد رأيي ولا آلو. فضرب رسول الله صلّى الله عليه وسلّم صدره وقال: الحمد لله الذي وفّق رسول رسول الله لما يُرضي رسول الله.

Artinya: Sesunguhnya Rasulullah ketika ingin mengutus Mu’adz ke Yaman, Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana caramu memberi keputusan, ketika ada permasalahan hukum?” Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasar kitabullah.” Rasulullah bertanya, “Jika engkau tak menemukan dasar dalam kitabullah?” Mu’adz berkata, “Aku akan menghukumi berdasarkan sunnah Rasulullah saw.” Rasul berkata, “Jika kau tidak menemukan dalam kitabullah dan sunnah Rasul?” Mu’adz menjawab, “Aku akan memutuskan berdasarkan pendapatku”, Rasulullah SAW menepuk-nepuk dada Mu’adz sambil berkata, “Segala puji bagi Allah yang menuntun utusan Rasulullah kepada apa yang diridai Rasulullah”. HR. Imam Ahmad.

5. Iman adalah pondasi budaya dan negara.
 Manusia di ciptakan oleh Allah SWT di bekali deng hati dan akal supaya menjadi mahluk yang berbudi luhur dan rasional. Dengan hati, manusia menjadi lentur, penyayang terhadap sesama mahluk Allah dan dengan akal manusia menjadi rasional, tidak gegabah, dan tenang dalam bertindak. Akal dan hati itulah tempat terdalam untuk mengenali diri sendiri yang muaranya adalah keimanan, dan dengan keimanan manusia akan menghasilkan budaya yang baik, berakhlak baik.
 Rasulullah adalah role model umat islam yang mana sosoknya sangat kita agungkan dan kita tauladani. Rasulullah di utus untuk menuntun umat dari zaman kegelapan menuju zaman yang gemilang, minadzulumat ilannur. Jika kita angan-angan Rasulullah adalah seorang yang revolusioner dalam segi budaya dan prototipe bernegara, beliau mampu mengubah budaya jahiliyah masyarakat mekah seperti penyembahan berhala, perbudakan, primordial menjadi masyarakat yang berbudaya dan beradab.
 Dalam menuju perubahan menjadi budaya dan negara yang lebih baik ada beberapa hal yang harus kita perhatikan:
Disiplin.
{ إن الصلاة كانت على المؤمنين كتابا موقوتا } سورة النساء: 103
 Artinya: (Sesunguhnya sholat itu adalah fardhu yang di tentukan waktunya atas orang-orang yang beriman) Qs. An-Nisa: 103.

Kerja keras.
{ إن الله لا يغير ما بقوم حتى يغيروا ما بأنفسهم } سورة الرعد:11 
 Artinya: (Sesungguhnya Allah tidak akan merubah suatu kaum sampai dia merubah dirinya sendiri) Qs. Ar-Ra’du: 11

Pantang menyerah.
 { ولا تيأسوا من روح الله إنه لا ييأس من روح الله إلا القوم الكافريون } سورة يسوف: 87
Artinya:  (Dan janganlah kalian berputus asa dari pertolongan Allah. Sesunguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kufur). Qs. Yusuf: 87

Inovasi.
المجادلة: 11 { يرفع الله الذين آمنوا منكم و الذين أتوا العلم درجات و الله بما تعملون خبير }  سورة
 Artinya: ( Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang di beri ilmu pengetahuan beberapa derajat, sungguh Allah maha mengetahui apa yang kamu kerjakan). Qs. Al-Mujadalah: 11
 Dari keempat point tersebutlah umat islam akan maju, progresif dan menjadi lebih baik. Disiplin, kerja keras, pantang menyerah dan inovasi adalah subuah pilar dari terciptanya budaya yang maju, negara yang maju.

6. Kesimpulan.
 Dari semua uraian di atas akhirnya kita membuat kesimpulan bahwasanya eid el-fitri adalah perayaan ketika kita sudah melakukan imtihan dari tuhan dengan cara menehan makan, minum, berhubungan dengan istri, dan menjaga segala nafsu amarah kita. Puasa juga bisa kita asosiasikan sebagai masa ujian yang mana rapornya akan kita terima ketika eid el-fitri, evaluasi diri selama satu bulan penuh dengan target menjadi lebih baik di tahun mendatang seperti sebuah table grafik yang selalu naik.
 Ketika memahami arti dari eid el-fitri maka seyogyanya kita menjadi pribadi yang luhur, rasional, supaya bisa membumikan budaya yang islami dan rahmatan lil alamin. Orang yang kembali ke fitrahnya adalah orang yang mempunyai jiwa disiplin, pantang menyerah, bekerja keras dan inovatif. Di kutip dari sya’ir Imam Ali Bin Abi Thalib:
اجهد و لا تكسل و لا تك غافلا # فندامة العقبى لمن يتكاسل
 Artinya:  “Bersunguh-sunguhlah dan jangan bermalas-malasan dan jangan juga menjadi orang yang lalai karena penyesalan adalah hukuman bagi para pemalas” – Ali Bin Abi Thalib.

 Pandemi bukanlah alasan yang menjadikan kita menjadi orang yang kurang kreatif, pandemi adalah sebuah tantangan baru bagi kita untuk berkreasi, lebih maju dan berani menjawab tantangan zaman, inilah bentuk transformasi yang harus kita capai ketika lebaran, menjadi lebih baik.

Cairo, 31 Mei 2020.
Burhanuddin Muhammad

20 Komentar

  1. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ustadz Afwan izin bertanya diluar temaAfwan ustadz sebenarnya bagaimana hukum tentang tiktok?

    Suka

  2. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaika wa alaiha slm, terimakasih atas pertanyaanya. pada dasarnya tiktok itu hukumnya boleh, tetapi akan berubah jika bermain tiktok itu di sertai unsur-unsur negatif seperti mengumbar aurat, memancing amarah dll. dalam kaidah fikhiyah dikatakan “pada mulanya setiap perkara itu hukumnya mubah selama tidak ada dalil yang menunjukan bahwa itu haram

    Suka

  3. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    bolehkan kita berbohong dengan alasan berobat, berbohong krna ingin resign dari tempat kerja, sebab sudah ga betah.Sudah bilang baik2 tapi tidak boleh.

    Suka

  4. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    terimakasih untuk pertanyaanya, memang sebagai orang islam kita di larang berbohong yang mana bohong atau kidzib adalah lawan dari sidiq (jujur), seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, bahwa islam itu fleksibel dalam memproduksi hukum, jika di lihat kasusnya adalah berbohong untuk kemaslahatan yang lebih besar maka boleh, seperti bohongnya pasukan perang dalam sebuah pertarungan strategi dll. tapi kalo berbohong hanya karena tidak betah mungkin baiknya di komunikasikan, karena satu kebohongan akan menimbulkan kebohongan lain. tanpa dalil pun kita sudah pasti tahu bahwa berbohong itu termasuk ahlak madzmumah (tercela).

    Suka

  5. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Bagaimana cara untuk mengistiqomahkan diri dan lebih konsisten dalam menjalani ibadah diluar bulan suci ramadhan? padahal waktu ramadhan semangat beribadahnya masyaa Allah sekali, tapi setelah ramadhan pergi semangatnya ikut pergi ustadz..

    Suka

  6. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaikum salam wa rohmah, terimakasih atas pertanyaanya. istiqomah itu lebih baik dari seribu karomah, memang istiqomah itu sangat berat maka dari itu di setarakan lebih dari seribu karomah, seandainya istiqomah itu gampang mungkin cuman berhadiah kipas angin, istiqomah itu sangat erat kaitanya dengan keadaan hati, karena jika hati kita bersih maka kita semakin mudah melakukan kebaikan, selain itu kita juga bisa menata ke istiqomahan kita dengan cara menata mindset dan mendisiplinkan diri. saya sendiri pun belum bisa istiqomah tetapi saya selalu berusaha dengan mendisiplinkan diri dan meniatkan hati. karena “Allah itu ada pada perasangka hambanya”, dan yang paling penting juga iaitu menata planning jangka panjang dan menata daily life atau jadwal dan target harian.

    Suka

  7. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Bismillah ,,, ana mau bertanya diluar tema ka ,,, bagaimana caranya jika kita ingin kuliah di al azhar kairo ? Dan adakah grup info mengenai beasiswa disana?

    Suka

  8. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaika salam wa rohmah mbak Vera Ardiningsih, ahlan kalo ingin berkuliah di Al Azhar cairo, infonya bisa di lihat di situsnya Kemenag, biasanya pendaftaran di buka pada bulan april via online baru setelah itu mengikuti ujian di univ yang bersangkutan dan juga bisa melihat di instagramnya PPMI MESIR. tapi sebelum melabuhkan hati kepada satu pilihan alngkah baiknya mbak vera searching di internet dulu tentang plus minus Al Azhar, mesir, kondisi pendidikan dll supaya kedepanya sudah punya planning jika memang benar jadi kesini.

    Suka

  9. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    saya sering terbangun ditengah malam sekitar jam 1-2 sudah 6x kak padahal saya sudah berdoa sebelumnya tp saya memang selesai lebaran ini antusias beribadah saya berkurang tidak seperti pada saat bulan ramdhan apakah karena saya kurang mendekatkan diri ada Allah?

    Suka

  10. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaikum salam wa rohmah, terima kasih mbak fadhila atas pertanyaanya. pertanyaan kedua yang masih berhubungan dengan keistiqomahan dalam berbuat kebaikan. dalam suroh al baqoroh ayat 186 Allah menjelaskan di dalamnya bahwa ketika hambanya berdo'a atau meminta kepada Allah maka Allah itu sangat dekat dan Allah akan akan menjawab atas semua do'a dan permintaan hambanya, tetapi manusia di bekali dengan akal supaya berfikir logis, ketahui dulu apa yang di pinta, terus prediksikan deng kemungkinan yang ada, karena hukum kausalitas (sebab akibat) adalah sunatullah, jika berdo'anya ingin di bangunkan tengah malam ya bisa di mulai dengan tidur lebih awal supaya terbangun di sepertiga malam, saya kira bangun tengah malam dan istiqomah itu harus memperhatikan manjemen waktu.

    Suka

  11. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatu. Maaf sebelumnya. Seperti yang ustadz bilang tadi, ada hadis yang berbunyi “Ketika kamu mendengar suatu wabah (tho’un) di suatu daerah maka janganlah kamu memasuki daerah tersebut, dan jika kalian berada di suatu daerah yang terjangkit sebuah wabah maka janganlah keluar dari daerah tersebut”. Tetapi bagaimana jika ada orang / masyarakat yang tetap memaksakan kehendaknya untuk memasuki/ keluar dari wilayah yang terkena wabah tersebut? . Lalu, bagaimana cara kita untuk mencegah/ menyadarkan kepada seseorang tersebut bahwa hal yang dilakukannya itu tidak baik. Terimakasih sebelumnya, wassalamualaikum wr.wb

    Suka

  12. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaikum salam wa rohmah mbak sofia, terimakasihn atas pertanyaanya. ini mengenai displin aturan ya. yang jelas pertama kali harus di lakukan adalah menegur. kemaren saya baca berita di detik bagaimana orang Bali menangani masyarakat atau orang-orang yang tidak patuh terhadap aturan, di masa pandemi kita tidak boleh egois dan semaunya sendiri demi keamanan bersama, akhirnya masyarakat Bali tadi memberi sanksi adat dan kesepakatan masyarakat terhadap orang-orang yang tidak mengindahkan aturan, sanksi bisa berupa denda, membersihkan desa dll yang penting ada efek jera. kalau di Mesir sendiri jika tidak memakai masker dan melangar aturan curfew bisa di denda sampai 4 rb EGP atau 3,5 jt kurang lebih.

    Suka

  13. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Assalamuaaikum tadz, jadi saya melihat ada berita di tv , kmren2 kan anaknya mudik dari luar daerahnya, trus sudah sampai dikampung malah di usir sama bapaknya, krn dikira nya dan ditakutkannya tertular virus.Bgmna ya ust, apakah yg dilakukan org tua ke anak tersebut bijak atau bgmna?? Krna ada juga yg kyk gtu di tetanga sya, smpai ga dianggap anak.Sebaiknya bgamna ya tadz… Bijaknya

    Suka

  14. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    alaika salam wa rohmah, terimaksih mbak tika atas pertanyaanya. ini terkait dengan management isolasi mandiri ya, di masa pandemi seperti ini kita memang harus lebih berhati-hati, menerapkan psycal distancing, menjaga kebersihan dll. sebagai orang tua haruslah bijak yang artinya harus menimbang, memprediksi, dan meminimalisir. menimbang karena anak sudah jauh-jauh untuk pulang ya harus di terima karena orang tualah tempatnya kembali, jika di kembali di masa=> jika dia kembali di masa pandemi seperti ini maka jangalah di usir dengan dalih kemungkinan terkena virus. terpapar virus itu keniscayaan yang bisa menimpa siapapun maka yang paling pas adalah melakukan isolasi mandiri selama 14 hari (lama waktu inkubasi virus). prediksi, jika dia tidak di rumah karena di usir justru lebih baya, karena jelas dia sangat rentan karena di luar rumah, dan belum lagi dia tinggal dimana, terus nasibnya seperti apa, sangatlah ksihan jika seperti itu. meminimalisir, bisa dengan cara tadi, melakukan isolasi mandiri selama 14 hari.

    Suka

  15. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Bagaimana sikap kt menghadapi kebijakan2 pemerintah yg berubah2 yg seringkali membuat bingung. Apalagi setelah idul fitri ini

    Suka

  16. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    terimaksaih ria atas pertanyaanya, mungkin ini gara-gara aturan PSBB atau oleh temen saya di bilang peraturan suka berubah berubah 😅, saya sendiri tidak tau ilmu tata negara dan politik tapi dengan jawaban awam saya, biarlah saya sedikit berbagi kesimpulan, menjaga diri adalah kewajiban bagi setiap individu apalagi di masa pandemi seperti ini, ketika pemerintah menyerukan PSBB tetapi malah bandara di buka, mol di biarkan beroperasi, ironi, biarlah mereka seperti itu, mungkin mereka lagi khilaf tapi yang jelas kita harus menjaga diri kita sendiri, karena hifdzu an-nafsi itu wajib.

    Suka

  17. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Dalam kaidah fiqhiyah kalau ndak salah “تصرّف امام على الرّاعيّة منوط بالمصلحة” (mohon dibenarkan apabila ada kesalahan). Nah disitu secara langsung menjelaskan bahwa kebijakan pemimpin/penguasa harus sejalan dengan kepentingan/kemaslahatan semua rakyat bukan untuk golongan atau dirinya sendiri. Tapi, seperti yang sudah kita ketahui di negara ini, bahwa kebijakan yang dikeluarkan pemimpin tidak semuanya dipatuhi oleh rakyatnya. Contohnya anjuran untuk di rumah saja, tapi nyatanya orang yang bekerja untuk memenuhi hidupnya tetap bekerja dimasa pandemi ini, sehingga pernyataan “tidak berbahaya bagi diri sendiri dan tidak membahayakan orang lain/la dharar wa la dhirar” tidak diindahkan lagi.Pertanyaan saya apakah permasalahan yg dialami rakyat tersebut disebut dengan kebijakan yang menurut pemimpin bisa memberi kemaslahatan bagi rakyatnya ? Sedangkan rakyat kecil yang kalau di rumah saja dan tidak bekerja tidak akan bisa makan ? 🥺Mohon penjelasannya 🙏🏻SyukranWassalamu'alaikum

    Suka

  18. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Terimakasih atas pertanyaanya 🙏 Pertama, Kaidah tersebut adalah benar adanya, mengikuti kebijakan pemimpin itu harus selama tidak bertentangan dengan aturan, dan memang imam atau pemimpin memang harus bijak dalam merilis peraturan supaya peraturannya tidak merugikan, apalagi merilis peraturan yang mengandung kepentingan sepihak. Dalam sebuah kasus antara kita tetap di rumah saja untuk memutus rantai penyebaran pandemi, itu menjadi sah jika orang itu memang mampu menjalankan aktifitas yang semula di luar kemudian di lakukan di rumah saja, maka dari itu di saya mencontohkan dengan silaturrahmi online, mudik online, karena itu lebih maslahat bagi kita dan orang lain, tetapi jika kasusnya ketika kita di rumah saja lantas bagaimana keberlangsungan hidup kita? Sedangkan kita juga butuh makan. Jawaban atas hal tersebut menurut sependek pengetahuan saya, maka harus tetap menjalankan aktifitas untuk keberlangsungan hidup, karena pada dasarnya tetap di rumah saja itu langkah preventif sedangkan bertahan hidup itulah yang menjadi hifdzu an-nafsi tapi dengan catatan harus sesuai protokol keamanan dan kesehatan.Dalam kaidah:درء المفاسد مقدم على جلب المصالحMencegah hal-hal yang merusak itu lebih utama daripada mengambil kemaslahatan.Benang merahnya, pemerintah merilis aturan di rumah saja itu lebih di sesuaikan dengan orangnya, atau tidak semua orang harus tetap di rumah saja, karena berdiam diri di rumah itu bersifat mencegah mafsadah. Jalbul masolihnya adalah tetap beraktifitas normal yang mana itu maslahat (bagi sebagian orang dengan kondisi tertentu) tetapi hal buruknya adalah pandemi akan sangat sulit di hentikan, memang berat pada kasus seperti ini, ada dua hal yang saling ta'arud (bertentangan), ini di kembalikan kepada personal saja, antara tetap dirumah atau beraktifitas, yang penting tahu batas dan selalu waspada. Bahkan di korea pun setelah di berlakukan aturan new normal dengan pertimbangan menurunya kasus baru, akhirnya melakukan pengetatan lagi karena setelah memberlakukan hal tersebut kasusnya naik lagi.Tetap di rumah saja jika memang urusan di luar tidak terlalu penting. Terimakasih🙏

    Suka

  19. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Gimana cara membangun jiwa di siplin , karna sejujurnya winah masih banyak lalai nya, bahkan kan winah di buat kerdil karna kemalsan winah 😪, mohon penjelasannya.

    Suka

  20. avatar Tidak diketahui Anonim berkata:

    Terimakasih winah atas pertanyaanya. Kita kembali ke qoulnya sayidna Ali:اجهد و لا تكسل و لا تك غافلا # فندامة العقبى لمن يتكاسل. Bersunguh-sunguh lah dan janganlah kamu bermalas-malasan dan jangan juga lalai # kerena penyesalan adalah hukuman bagi orang yang pemalas.Itu adalah ungkapkan motivasi Imam Ali terhadap kita supaya menjadi orang yang semangat, pantang menyerah dan jangan sampai kita menjadi orang yang menyesal di kemudian hari. Jika kita perhatikan, Islam sangat memperhatikan yang namanya waktu yang muaranya adalah kedisiplinan, solat ada waktunya, haji ada waktunya, zakat, puasa ada waktunya dan ada beberapa suroh juga di buka dengan waktu, seperti suroh Ad-Duha, Al-Lail dan sebagainya, juag ada ungkapkan orang arab:الوقت كسيف، إذا لم تقطع قطعكWaktu itu seperti pedang yang mana jika kamu tidak memotongnya maka dia akan memotongmu. Orang barat pun bilang:Time flies so fast, yang artinya waktu berlalu (terbang) sangat cepat, bukan menguntungkan kata walks (berjalan), karena pesawat lebih cepat dari pada mobil 🤣Intinya disiplin itu harus di mulai dari niatan hati yang kuat, membuat planning jangka panjang dan pendek, menysun agenda harian, menentukan target dan berani bermimpi. Dan juga, selalu mindset diri sendiri supaya bisa mencapai target-target yang telah kita susun. Saya juga belum bisa disiplin tetapi saya selalu berusaha dan berusaha, karena menjadi baik itu bukan seperti mie cup yang langsung bisa di nikmati hanya dengan di seduh 😁

    Suka

Tinggalkan Komentar