Ada sebuah pertanyaan dan pernyataan yang mungkin sering terbesit dalam diri kita; “kenapa membaca surat Al-Ikhlas kedahsyatannya seumpama membaca sepertiga Al-Qur’an?”
.
Itu disebabkan karena di dalam surat Al-Ikhlas ada Penegasan Tauhid.
Ada pelurusan akan ajaran keliru yang dianut beberapa banyak umat manusia bahwa Tuhan memiliki anak. Kepada Nabi Muhammad SAW; Allah SWT menegaskan.
“Katakanlah (wahai Muhammad), Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia” (Q.S Al-Ikhlas ayat 1-4)
Itu merupakan sebuah konsep ketahanan yang sangat sempurna. Konsep tolong yang tidak ada cacatnya. Tuhan adalah Tuhan yang tidak boleh ada yang sama dan setara dengannya. Dan tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Itulah ajaran Tauhid seluruh Nabi-Nabi Allah SWT.
Dan ada penegasan dalam Al-Qur’an pada Surat Al-Ma’idah ayat 116-117. “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, “Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada orang-orang, jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?” (‘Isa) menjawab, “Mahasuci Engkau, tidak patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada-Mu. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib. (116). Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (yaitu), “Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu,” dan aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di tengah-tengah mereka. Maka setelah Engkau mengangkatku ke langit, Engkaulah yang mengawasi mereka. Dan Engkaulah Yang Maha Menyaksikan segala sesuatu. (117)”
Dalam Ayat tersebut sudah jelas sekali Nabi Isa A.S atau Yesus tidak pernah menyatakan dirinya atau ibunya sebagai Tuhan yang harus disembah. Dia tegas menyatakan tidak ada Tuhan yang patut disembah selain Allah SWT dan dia mengajak para pengikutnya untuk menyembah hanya kepada Allah SWT. Namun ajaran itu diubah.
Maka kelak mereka yang seenaknya saja mengubah-ubah ajaran tauhid Nabi Isa itu akan berhadapan dengan Nabi Isa. Entah kapan pun terjadinya, tapi kita harus yakin itu akan terjadi.
.
.
Allahu a’lam bi-showaab